Etika Berbusana
Berbusana sebagai bagian integral dari keadaban manusia berhubungan erat dengan etika, baik etika yang berbasis pada nilai- nilai religi maupun norma tradisi. Secara prinsip semua agama memandang etika berbusana dalam hal ini menutup aurat adalah
bagian yang tak terpisahkan dengan ketaatan pada Tuhan, maka sangat beralasan jika pengaturan etika berbusana di ruang publik mengacu pada nilai-nilai religiusitas. Mengingat masyarakat Kendari secara
sosio kultural dan historis memiliki akar kultur religi yang berbasis pada Islam, maka sejatinya pakaian atau norma model tata busana yang “layak” untuk dikembangkan bagi masyarakat di daerah ini, merujuk pada tata busana budaya masyarakat Kendari yang dikaitkan dengan akar religi masyarakat setempat, yaitu Islam. Tanpa harus
dimaknai bahwa konsep tersebut menegasikan keberadaan pihak lain.
Berbusana atau berpakain merupakan salah satu wujud
keberadaban manusia. Oleh karena itu, berbusana, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, bahkan serangan binatang, akan tetapi terkait
dengan adat istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status dan juga identitas. Pakaian merupakan salah satu penampilan lahiriah yang paling jelas dimana penduduk dibedakan dengan yang
lain dan sebaliknya menyamakan dengan kelompok lainnya.
Pakaian atau busana adalah konsep dari penanda dan makna atas identitas sebuah diri, atau dapat dinyatakan sebagai harkat dan martabat status dalam lingkup sosial dan pergaulan. Pakaian juga menjadi alat komunikasi, melalui pakaian manusia berkomunikasi secara langsung tanpa membutuhkan upaya untuk melakukan pendekatan secara personal. Dengan kata lain, pakaian atau busana.
Secara sederhana pakaian dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menutup tubuh baik dari bahan kapas/kain, maupun kulit. Pakaian adalah
penutp tubuh (aurat) yang dengan penutup tersebut seseorang masih memungkinkan orang lain untuk bisa mengenali/mengetahui satu sama lainnya. Dengan busananya tidak menutup orang lain untuk bisa melihat sesamanya. Bukan menyembunyikan seseorang dari pandangan orang lain, sehingga tidak bisa dikenali siapa yang berada dibalik pakaian tersebut. Pakaian itu bagaimanapun kadar dan jenisnya, bahkan
biarpun menutup seluruh badan seseorang dan wajahnya, maka ia tidak menghalangi yang memakainya untuk melihat manusia yang ada disekelilingnya, dan juga tidak
menghalangi orang lain untuk mengenali diri seseorang tersebut. Abdul Halim Mahmud, Busana dan Perhiasan Wanita Menurut Quran Hadis, (Bandung : Mizan,
1998), h. 16.
Pakaian bukan sekadar menandai perbedaan dan kesamaan didalam masyarakat, tapi juga media yang mengekspresikan sikap tertentu terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing. Sejarah pakaian adalah sejarah tentang perebutan panggung publik
kekuasaan, pandangan sosial, politik, ideologi, dan bahkan agama. Semua hal ini melekat erat dalam pakaian baju, celana, sepatu, topi, dompet, ikat pinggang, dan lainnya. Sadar atau tidak, pakaian telah membentuk citra diri dan identitas setiap orang yang membedakan dengan yang lain.
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga
pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu aturan yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul, termasuk bagaimana seharusnya manusia melaksanakan etika dalam berbusana. Secara etimologi, kata etika berasal dari bahasa Latin ethic, dalam
terjemahan bahasa Inggris kata ethic diartikan dengan “tata susila”. Ahmad Amin mendefinisikan etika a body of moral principles or values, yang disejajarkan dengan kebiasaan, habit, custom. Pengertian tersebut paralel dengan istilah ethos (turunan dari kata etik) yang berarti arti adat-istiadat atau kebiasaan yang baik. Adat istiadat
adalah kumpulan tata kelakuan atau norma yang hidup dan berkembang dalam suatu lingkungan budaya yang memiliki akar dan terintegrasi sangat kuat dalam pandangan masyarakat yangmemilikinya.
Etika secara prinsip berisi norma (aturan) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktek. kehidupan sehari-hari, motivasi terpenting dan terkuat dalam berperilaku moral adalah agama. Setiap agama mengajarkan moral yang menjadi pegangan bagi penganutnya dalam berperilaku. Moral
yang diajarkan oleh agama dipandang sangat penting dalam menata perilaku, karena ajaran moral ini berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Dengan busananya tidak menutup orang lain untuk bisa melihat sesamanya. Bukan menyembunyikan seseorang dari pandangan orang lain, sehingga tidak bisa dikenali siapa yang berada dibalik pakaian tersebut. Pakaian itu bagaimanapun kadar dan jenisnya, bahkan
biarpun menutup seluruh badan seseorang dan wajahnya, maka ia tidak menghalangi yang memakainya untuk melihat manusia yang ada disekelilingnya, dan juga tidak
menghalangi orang lain untuk mengenali diri seseorang tersebut. Abdul Halim Mahmud, Busana dan Perhiasan Wanita Menurut Quran Hadis, (Bandung : Mizan,
1998)
Pakaian bukan sekadar menandai perbedaan dan kesamaan didalam masyarakat, tapi juga media yang mengekspresikan sikap tertentu terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing. Sejarah pakaian adalah sejarah tentang perebutan panggung publik
kekuasaan, pandangan sosial, politik, ideologi, dan bahkan agama. Semua hal ini melekat erat dalam pakaian baju, celana, sepatu, topi, dompet, ikat pinggang, dan lainnya. Sadar atau tidak, pakaian telah membentuk citra diri dan identitas setiap orang yang membedakan dengan yang lain.
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga
pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu aturan yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul, termasuk bagaimana seharusnya manusia melaksanakan etika dalam berbusana. Secara etimologi, kata etika berasal dari bahasa Latin ethic, dalam
terjemahan bahasa Inggris kata ethic diartikan dengan “tata susila”. Ahmad Amin mendefinisikan etika a body of moral principles or values, yang disejajarkan dengan kebiasaan, habit, custom. Pengertian tersebut paralel dengan istilah ethos (turunan dari kata etik) yang berarti arti adat-istiadat atau kebiasaan yang baik. Adat istiadat
adalah kumpulan tata kelakuan atau norma yang hidup dan berkembang dalam suatu lingkungan budaya yang memiliki akar dan terintegrasi sangat kuat dalam pandangan masyarakat yangmemilikinya.
Etika secara prinsip berisi norma (aturan) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktek. kehidupan sehari-hari, motivasi terpenting dan terkuat dalam berperilaku moral adalah agama. Setiap agama mengajarkan moral yang menjadi pegangan bagi penganutnya dalam berperilaku. Moral
yang diajarkan oleh agama dipandang sangat penting dalam menata perilaku, karena ajaran moral ini berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Dengan demikian, ajaran ini diterima karena alasan keimanan, karenanya agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Lebih lanjut, etika
berkembang menjadi studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada umumnya.

Komentar
Posting Komentar